Sosok

Akademisi Menilai Kerusuhan di Papua Bukan Akibat Rasisme
AL | Rabu,21 Agus 2019 - 16:54:04 WIB | dibaca: 104 pembaca

Pengamat Sosial Budaya, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) Universitas Pakuan, Agnes Setyowati.foto.ist

Bogor, CityPost - Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) Universitas Pakuan Bogor, Jawa Barat, Agnes Setyowati menilai kerusuhan yang terjadi di beberapa wilayah Papua pada Senin (19/8) bukan akibat rasisme. Menurut Agnes yang dikenal sebagai Pengamat Sosial Budaya, yang jadi pangkal permasalahannya adalah  pengepungan Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan Surabaya, Jawa Tinur pada 16 Agustus 2019, itu bukan merupakan bentuk rasisme, melainkan hanya tindakan arogan segelintir oknum.

"Sejauh ini peristiwa tersebut tidak bisa dipahami sebagai bentuk rasisme yang dilakukan oleh warga di Provinsi Jawa Timur terhadap masyarakat Papua," kata Agnes kepada wartawan di Bogor.

Agnes menjelaskan, rasisme merupakan tindakan penguatan stereotip terhadap kelompok tertentu yang terorganisir. Menurut Agnes, yang dialami oleh sejumlah mahasiswa Papua di Surabaya merupakan bentuk kesalahpahaman antar berbagai pihak. Agnes juga mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dan teliti dalam menerima informasi yang beredar di media sosial karena tidak mungkin ada pihak yang sengaja menyebarkan konten-konten terkait persekusi mahasiswa Papua di media sosial yang berpotensi memecah persatuan bangsa.

"Masyarakat harus terus mengedukasi diri dan bersikap lebih bijaksana dalam menerima informasi serta belajar menahan diri untuk tidak bersikap reaksioner terhadap hal-hal yang dapat memecah persatuan bangsa," ujarnya.

Untuk itu, Agnes berharap masyarakat terus membangun solidaritas dan kesadaran tentang kebhinekaan yang menjadi ciri khas sekaligus unsur terkuat bangsa Indonesia, karena masuknya Papua sebagai bagian dari Indonesia sama halnya dengan provinsi lainnya yang perlu dijaga bersama.

"Masyarakat harus selalu membudayakan diri untuk menyadari bahwa keberagaman merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Alih-alih melihatnya sebagai bentuk perbedaan, kita harus menghargai segala bentuk perbedaan demi keutuhan dan persatuan bangsa," pungkasnya. (red/ist)

Berita Lainnya
.

Dana Korupsi APBD Jambi Dikembalikan Ke KPK
Mobil TVRI Dikabarkan Terjungkal Ke Jurang
Gunung Sinabung Meletus Semburkan Awan Panas
KSBSI Klaim Pihaknya Dikriminalisasi
Ponsel Flip Samsung W2018 Sudah Tersedia