City College

Pendidikan Vokasi Jadi Elemen Penting Era Persaingan Global
Pus | Minggu,29 Mar 2020 - 19:08:13 WIB | dibaca: 447 pembaca

Rektor Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) STIKOM Bali, Dadang Hermawan/foto ist

Jakarta, CityPost – Memasuki era globalisasi seperti sekarang ini persaingan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan, keahlian dan pengetahuan menjadi parameter dan kebutuhan pokok bagi sebuah kota, provinsi ataupun negara. Mereka akan dipertemukan dalam sebuah persaingan global industri, pendidikan dan semua yang terkait didalamnya.

Untuk kalangan milenial seperti sekarang ini, tuntutan itu menjadi kebutuhan dan kewajiban, dimana ketika mereka tidak memiliki keterampilan dan pengetahuan maka generasi muda akan tergilas dalam kancah persaingan global yang tidak bisa dihindari lagi.

Menanggapi permasalahan itu, Rektor Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) STIKOM Bali,  Dadang Hermawan menilai harus ada sebuah pola pendidikan yang menuntut generasi muda mampu berketerampilan dan berpengetahuan, tetapi tidak mengacu pada pola pendidikan dan tujuan yang klasik seperti mengejar gelar strata akademik agar bisa bekerja menjadi pegawai negeri ataupun swasta seperti yang kebanyakan terjadi saat ini.

Dadang mengatakan, pada umumnya pola pikir masyarakat Indonesia terhadap pendidikan setelah mereka lulus SLTA beranggapan bahwa gelar akademik merupakan satu-satunya tujuan yang bisa membawa perubahan bagi masa depan yang cerah, seperti dengan menjadi pegawai negeri maupun swasta. Padahal, pendidikan tinggi bidang akademik itu bertujuan untuk menghasilkan ilmuwan yang handal dan memiliki IQ tinggi sehingga setelah mereka lulus SI lalu lanjut S2 dan S3, mereka bisa menjadi dosen, peneliti atau ilmuwan lainnya yang dalam bekerja banyak menggunakan otak kiri dan sedikit otak kanan.

“Tujuan gelar akademik untuk sebuah pekerjaan ini sesungguhnya tidak sesuai dengan tujuan pendidikan akademik sehingga ada ketimpangan antara lulusan perguruan tinggi dengan lowongan yang tersedia,” ungkap Dadang Hermawan melalui keterangan pers yang disampaikan kepada CityPost pada Minggu (29/3) hari ini.

Menurut Dadang, Indonesia dan generasi muda diddalamnya saat ini membutuhkan pendidikan vokasi dan mereka harus tahu bahwa dijaman yang serba digital, jaman RI 4.0, jaman disrupsi, jaman yang perubahannya sangat cepat, era global maka mereka sudah tidak boleh lagi mendewakan gelar sarjana. Karena yang dibutuhkan adalah keterampilan atau kompetensi tertentu plus penguasaan bahasa asing yang harus dikuasai oleh para pencari kerja.

“Dinegara kita sudah ada beberapa regulasi mulai dari UU sampai dengan Peraturan Menteri yang mendorong berkembangnya pendidikan vokasi. Pendidikan vokasi sebenarnya sangat cocok untuk kebanyakan mahasiswa Indonesia yang kebiasaannya setelah menyelesaikan kuliah kemudian mencari pekerjaan. Namun karena paradigma berfikir yang masih selalu menginginkan gelar, maka untuk menjadikan pendidikan vokasi benar-benar digandrungi masyarakat harus dilakukan dengan sejumlah upaya yang terus disosialisasikan,” ujarnya.

Terkait pentingnya pendidikan vokasi itu sendiri, Dadang menjelaskan ada beberapa langkah yang bisa dilakukan agar bisa terimplementasikan oleh para generasi muda, seperti harus adanya upaya berkesinambungan yang terus disosialisasikan kepada mereka melalui konten-konten yang menarik dan menjelaskan bahwa pendidikan vokasi adalah pola yang tepat untuk bisa menghantarkan mereka atau para alumni dalam menghadapi dunia kerja maupun dunia wirausaha.

Kemudian, harus memperkuat sarana dan prasarana praktek disetiap jenjang pendidikan vokasi dari kelas SMK, Perguruan Tinggi (PT) maupun lembaga kursus non formal. Lalu mewajibkan semua Perguruan Tinggi Vokasi dan SMK untuk memiliki mitra dengan perusahaan minimal 5:1 artinya mahasiswa atau siswa mempunya 1 mitra perusahaan. Khusus SMK diharuskan bermitra dengan minimal satu PT Vokasi.

“SMK-SMK yang ada diarahkan untuk lebih spesifik bidang-bidang keahliannya, misalnya SMK Teknologi Informasi, SMK Kelautan, SMK Pertanian, SMK Pariwisata, SMK Bisnis Manajemen, SMK Seni dan sebagainya,” ungkap Dadang.

Menurut Dadang semua upaya itu penting dilakukan setelah itu baru meningkatkan kolaborasi dengan berbagai perusahaan baik dari dalam maupun luar negeri dalam bidang penyusunan kurikulum dan pemagangan atau tempat praktek kerja. Bisa juga berkoordinasi dan bekerjasama dengan pihak Kementerian Tenaga Kerja dan tempat magang lain diluar negeri.

“Kita harus mendorong dan mempermudah setiap lembaga pendidikan tinggi vokasi untuk melaksanakan rekognisi pembelajaran lampau baik untuk dosen/guru maupun mahasiswa. Kerjasama dengan lembaga perbankan untuk memberikan kredit lunak kepada calon pemagang keluar negeri dan juga memberlakukan standar nilai yang tinggi untuk akreditasi dalam bidang penyaluran alumni atau tracer study,” pungkas Dadang Hermawan. (Pus)

Berita Lainnya
.

Ligaddungmawali, Cagar Budaya yang Unik di Derawan
Jelang Hari Raya Kemendag Tetapkan Harga Kebutuhan Pokok
Pemerintah Beri Izin Eksport Konsentrat Sementara Kepada Freeport
Ultah ke-71, Persit Kodim Demak Ziarah dan Tabur Bunga
Tingkatkan Kemampuan Prajurit, Kodim Demak Gelar Latorjab