Mikro

Potensi Daerah Bisa Picu Pertumbuhan Ekonomi Kewirausahaan
Agus | Senin,02 Des 2019 - 12:56:29 WIB | dibaca: 35 pembaca

Kadis Koperasi dan UKM Taput, Marco TP Panggabean bersama Penenun Ulos, Renny Manurung/foto Agus-citypost

Jakarta, CityPost - Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kab. tapanuli Utara, Marco TP Panggabean,  mengatakan, untuk menumbuh kembangkan jiwa berwirauasaha atau yang lebih dikenal dengan istilah entrepreneur, potensi masing-masing daerah harus diperhatikan, sehingga para pelaku entrepreneur benar-benar memaksimalkan potensi daerahnya masing-masing agar hasil produksinya bisa bersaing di pasar nasional.

Hal tersebut disampaikan Marco saat melakukan kunjungan kebeberpa UKM binaannya di Taput (30/11)

Ia berpandangan bahwa dengan mengembangkan semangat untuk berwirausaha adalah salah satu cara untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional. Semakin banyak entrepreneur tangguh tercipta, angka pengangguran akan semakin berkurang jumlahnya, Ungkap Marco.

Menurutnya, ketertarikan masyarakat menjadi pengusaha semakin meningkat, apalagi dipicu teknologi yang semakin tinggi dan peluang pasar yang juga semakin besar. Demikan halnya di masyarakat Kabupaten Tapanuli Utara yang setiap tahun antusias kalangan pemula yang ingin berusaha semakin meningkat.

Marco mengatakan, ada beberpa potensi kewirausahaan yang perlu dikembangkan didaerahnya. Potensi tersebut antara lain berupa tenun ulos, pengolahan makanan, kegitan menjahit, dan seni ukiran.

Lebih lanjut Ia mengatakan, untuk menumbuh kembangkan serta mendukung jiwa enterpreneur tersebut sangat dibutuhkan pelatihan guna menciptakan kearifan lokal yang pada akhirnya akan bermuara terhadap pertumbuhan ekonomi secara nasional.

"Dengan memberikan pelatihan terhadap pelaku wirausaha di Taput, kami berharap dapat tercipta daya saing dan menjadikan serta membawa Taput sebagai salah satu pusat sentral perkembangan dunia usaha di Indonesia" ungkapnya. 

kami  meyakini, pelatihan wirausaha mampu mendongkrak produktifitas di Kab.Tapanuli Utara, sehingga diharapkan mampu menekan angka pengangguran, namun dibutuhkan komitmen semua pihak untuk menindaklanjuti hasil pelatihan agar masyarakat benar-benar bisa merasakan manfaatnya, paparnya lebih lanjut.

Pada kesempatan yang sama, salah seorang enterpreneur binaan dinas koperasi dan UKM Kab. Taput, Renny Manurung yang menggeluti usaha tenun ulos berharap agar pemerintah lebih memperhatikan usaha yang berhubungan dengan budaya yang diwariskan secara turun-temurun seperti halnya pembuatan kain ulos.

Renny mengatakan, bahwa Ia telah menggeluti usaha tenun Ulos sejak tahun 2014 hingga sampai sekarang.  Saat ini kami dapat menghasilkan omzet sekitar Rp2 milyar setiap tahunnya, kata Renny. 

Selain itu, Ia juga menyampaikan bahwa kain tenun yang berasal dari tapanuli ini sudah dapat merambah pasar hingga keluar negeri. Renny mengatakan bahwa harga yang ditawarkan mulai ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah. Tergantung jenis, motif dan tingkat kesulitan membuat Ulos, katanya.

"Semakin lama proses penenunan, maka harga yang ditawarkan akan semakin mahal" ungkapnya.

Saat ini diketahui Renny telah membuat satu kelompok yang diberi nama 'Dame Ulos'. kelompok ini beranggotakan sekitar 40 orang anggota yang bergerak dibidang usaha yang sama.

Terkait kendala dalam mengembangkan usaha tenun Ulos, Renny mengaku selain butuh bantuan modal, mereka butuh keperluan lain seperti perlengkapan untuk pameran. Selain itu, menurutnya mereka sangat memerlukan pelatihan dalam menciptakan bahan dasar, penenunan, membuat warna alam, dan yang tidak kalah pentingnya adalah promosi, tadas Renny.

Ditempat terpisah, enterpreneur lain yang juga salah satu  binaan dinas koperasi dan UKM Kab. Tapanuli Utara berupa industri pengolahan makanan ringan yang dikelola oleh Nurzannah Panggabean bersama 5 orang pekerjanya telah menggeluti usahanya sejak 15 tahun yang lalu.

Nurzannah mengatakan makanan ringan yang diolahnya berbahan baku singkong, jagung, ubi jalar, pisang dan tepung yang kemudian diolah menjadi keripik tanpa bahan pengawet yang diberi nama 'Usaha Aneka Keripik Benjamin'.

Nurjannah mengaku, setiap bulan usahanya membutuhkan sekitar 4 ton singkong, 250 kg jagung, 2 ton pisang serta sekitar 200 kg ubi jalar dan tepung.
 
Nurzannah mengatakan hasil produk tersebut dipasarkan di 4 kabupaten yaitu Kab. Tapanuli Utara, Samosir, Toba Samosir dan Kab. Humbang Hasundutan.
" Berkat usaha ini kami bisa menghasilkan omzet rata-rata sekitar Rp20 juta setiap bulannya" ungkapnya.

Kendati demikian, Nurzanah mengakui untuk menunjang kelangsungan dan perkembangan usahanya sangat diperlukan dukungan berupa fasilitasi alat pembungkus kesemasan maupun pelatihan penunjang lainnya.

"Saat ini kami mengalami kewalahan untuk memenuhi permintaan pasar karna keterbatasan baik berupa modal maupun peralatan lain, ini menjadi kendala utama untuk kami' tandasnya. 

Sementara Itu, Asisten Deputi Pengembangan Kewirausahaan Kemenkop dan UKM, Narsun memberikan apresiasi terhadap pemerintah daerah yang punya semangat dan sprit yang sama dalam menumbuhkan wirausaha-wirausaha baru. Nasrun mengatakan perlu dibangun komunikasi dan sinergi anatara program pemerintah pusat dan daerah. 

" hal ini sangat kita perlukan untuk pencapaian RPJMN tahun 2020 sampai dengan tahun 2024 mendatang dengan harapan rasio wirausaha naik 1% dari total jumlah penduduk" tandas Nasrun. (Agus-citypost)

Berita Lainnya
.

Stiker Donasi Layaknya Facebook Mulai Diuji Instagram
Indonesia Bermain Imbang dengan Malaysia di Piala AFF U-22
PAN Sebut Wapres JK Tidak Bela Prabowo
Venezuela Mulai Menutup Diri, Akses Curacao Ditutup
AS Bakal Segera Punya Armada Antariksa