Tokoh

Australia Geram Penulisnya Ditahan China
RWS | Senin,02 Des 2019 - 18:15:03 WIB | dibaca: 37 pembaca

Menteri Luar Negeri Australia Marise Payne/foto ist

CityPost – Pemerintah Australia saat ini tengah meradang mendengar ditangkapnya seorang penulis dari Australia di Tiongkok. Mereka tidak bisa menerima perlakuan pihak China dan menuntut penjelasan secara kongkret atas kasus warga negaranya yang ditahan itu.

Penegasan itu disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Australia Marise Payne. Dia mengingatkan bahwa apa yang dilakukan China bisa membuka ketegangan dengan pihak Australia.

Seperti yang dilansir Al Jazeera, seorang penulis yang notabene merupakan mantan diplomat China bernama Yang Hengjun, saat ini telah ditangkap oleh pihak China. Dia ditangkap pada Agustus lalu usai dicurigai menjadi spionase.

Hengjun saat ini ditahan di Kota Guangzhou, Cina Selatan. Sementara itu, pihak Australia sedang melakukan penyelidikan formal terhadap tuduhan China itu.

Payne mengaku sangat prihatin dengan laporan yang masuk kemeja kerjanya dari pejabat kedutaan Australia terkait kondisi Hengjun dipenjara. Laporan itu disampaikan usai pejabat kedutaan itu mengunjungi Hengjun.

“Keadaan penahanannya termasuk meningkatkan isolasi dari dunia luar, dengan pembatasan komunikasinya dengan keluarga dan teman-teman, dan dimulai kembali interogasi setiap hari, termasuk saat dibelenggu. Ini tidak bisa diterima,” tegas Payne.

Pemerintah Australia sendiri, kata Payne, saat ini sudah meminta penjelasan dari Hengjun, selain itu mereka juga meminta kepada pihak China agar menerapkan standar dasar keadilan yang prosedural dan perlakuan manusiawi bagi Hengjun.

Senada dengan Payne, Perdana Menteri Australia Scott Morrison juga membantah bahwa Hengjun merupakan mata-mata yang ditangkap di Tiongkok.

Morrison mengatakan, kesejahteraan seorang warga negara Australia adalah hal yang terpenting dan bahwa pihak berwenang telah meningkatkan kekhawatirantentang pemenjaraan Hengjun selama beberapa waktu.

“Australia selalu harus membela warga negara kami dan kami harus jujur pada siapa kami sebagai rakyat,” ungkap Morrison di Canberra. (RWS/ist)

Berita Lainnya
.

Cegah Politik Uang Merajalela di Munaslub Golkar, Komite Etik Diminta Bekerja Maksimal
Singapura klarifikasi soal perjanjian ekstradisi dengan RI
Mau Menumpang Mobil Otonom Google?
Tandatangani Kontrak 2 Tahun, Vinales Resmi Bergabung dengan Yamaha
Gadis 16 Tahun Diperkosa 113 Pria, Termasuk Polisi, Selama 2 Tahun