Bali

LPK Darma Bantah Tudingan Menipu dan Telantarkan Mahasiswa
Chan | Kamis,17 Sept 2020 - 17:54:24 WIB | dibaca: 128 pembaca

Direktur LPK Darma Drs.Dede Heryadhy MM/foto ist SSV youtube Klarifikasi Video

Bali, CityPost – Program Magang mahasiswa ke Jepang yang diinisiasi oleh LPK Darma bersama STIKOM Bali dalam memberikan kesempatan kepada pemuda-pemudi Indonesia untuk menciptakan pribadi mahasiswa mandiri dalam meniti karir pendidikan kini tengah dipermasalahkan beberapa calon peserta yang merasa dirugikan hingga berujung pada pelaporan keranah hukum.

Polemik tersebut saat ini sudah ditanggapi oleh pihak LPK Darma yang dengan tegas membantah bahwa mereka menelantarkan dan menipu para calon peserta program magang keluar negeri. Bahkan lembaga pelatihan itu mengaku bingung dengan semua tuduhan yang dilayangkan oleh para pihak pasalnya selama ini LPK Darma menutupi kekurangan biaya dari para peserta dan telah memenuhi semua kebutuhan mereka sebelum akhirnya bisa berangkat ke Jepang atau Taiwan.

Tanggapan disampaikan langsung oleh Direktur LPK Darma Drs. Dede Heryadhy MM kepada redaksi citypost disertai dengan pernyataan tayangan video klarifikasi.

Dede mengaku bingung dan heran dengan tuduhan tersebut yang dianggapnya tidak jelas dan minta dibuktikan karena sudah menyudutkan institusi pendidikan LPK Darma dan Stikom Bali. Dia menjelaskan selama ini pihaknya selaku lembaga pelatihan sudah memberikan dan menyiapkan kebutuhan para calon peserta bahkan sampai menutupi kekurangan biaya mereka agar bisa terbang ke Jepang atau Taiwan.

Sementara itu, terkait program magang ke Jepang dan kuliah sambil kerja di Taiwan itu sendiri, menurut Dede semua diawali dengan adanya kesamaan misi dan visi yang sejalan antara LPK Darma dengan Kabupaten Flores Timur (Flotim-red) yang salah satunya adalah menyelamatkan anak muda Flores dalam mewujudkan tenaga kerja profesional dan mahasiswa mandiri dengan program magang ke Jepang dan kuliah sambil kerja di Taiwan.

“Nah, untuk merealisasikan ini maka kami mempunyai satu gagasan antara Bupati Flotim Anton Hadjon dengan LPK Darma, dimana realisasinya dilakukan melalui program pemagangan keluar negeri ke Jepang dan juga program kuliah sambil kerja ke Taiwan,” jelas Dede pada Kamis (17/9) hari ini.

Dede sendiri mengaku bingung dituding menipu dan menelantarkan mahasiswa pasalnya selaku Direktur LPK Darma pihak dan lembaganya sudah merogoh kocek untuk menutupi kekurangan biaya para calon peserta yang akan dilatih dan berangkat ke Jepang atau Taiwan.

“Saya selaku pemimpin di LPK Darma merasa heran dan merasa aneh. Nipunya dimana gitukan? Kemudian menelantarkan anaknya dimana? Dibilang nipu, orang kita yang menutupi kekurangan biaya mereka. Lalu menelantarkan anaknya dimana?” tanya Dede.

Sementara itu, Dede juga menjelaskan bahwa pihak LPK Darma selama ini sudah memberikan fasilitas penginapan bagi calon peserta melalui tiga asrama yang cukup mewah dan berada di Keboiwo Mahedratdatta dan Batanghari.

“Jadi dimana menelantarkannya, tiga Asrama yang semuanya menurut ukuran kami lebih daripada cukup dan mewah. Bahkan dulu ketika mereka baru masuk, seprei, bantal dan kasur kita yang belikan. Saya cukup heran dan bingung jika ada para pihak yang menyebutkan LPK Darma menipu, membohongi dan menelantarkan tolong ditunjukkan dimana menipu dan membohongnya biar jelas !” tegas Dede.

Kendati demikian, Dede sendiri tidak menepis adanya biaya dalam merealisasikan program magang ke Jepang dan kuliah sambil kerja di Taiwan. Oleh karenanya, program yang ditujukan bagi angkatan kerja muda yang potensial ini ditawarkan kepada pihak Kabupaten Flores Timur.

“Kami tawarkan program itu kepada Bapak Bupati bahwa ini adalah program yang sangat menguntungkan bagi kedua belah pihak. Dalam hal ini, bagi masyarakat Flores Timur dan juga kami yang mempunyai fungsi selaku sarana pelatihan dibidang ketenaga kerjaan,” ujarnya.

Mengenai biaya, kata Dede, semua pihak sepakat untuk melibatkan pihak perbankan. Dalam hal ini BRI Larantuka yang akan memberikan bantuan pendanaan dalam bentuk pinjaman kepada calon peserta magang ke Jepang dan kuliah di Taiwan dengan jaminan Bapak Bupati Flores Timur.

“Jadi skemanya mereka pinjam dahulu disana (BRI-red) dengan jaminan Bapak Bupati, setelah dana pinjaman cair kemudian sejumlah dana ditransfer ke rekening LPK Darma, selanjutnya dipergunakan bagi anak-anak, apakah itu yang mau ikut program magang ke Jepang atau untuk program kuliah sambil kerja ke Taiwan,” jelas Dede.

Posisi LPK Darma itu sendiri menurut Dede hanyalah fasilitator yang memberikan pelatihan kepada calon mahasiswa dan peserta magang yang akan pergi ke Jepang dan Taiwan. Sedangkan yang memiliki otoritas memberangkatkan dan menempatkan mereka adalah STIKOM Bali yang juga merupakan satu group dengan LPK Darma.

“Stikom Bali mempunyai kewenangan dan sejumlah kerjasama dengan berbagai Universitas di Taiwan, oleh karena itu Stikom yang menjadi lembaga pengiriman calon mahasiswa ke Taiwan,” tukasnya.

Dede menjabarkan bahwa bagi mereka yang masih belum bisa berangkat dan tertunda karena masih menunggu persetujuan dari negara Taiwan dan Jepang, tetap statusnya masih menjadi mahasiwa Stikom Bali.

“Jadi adik-adik dari Flores Timur ini menurut saya pribadi, mohon maaf, mereka sangat beruntung karena bisa menikmati pendidikan disebuah perguruan tinggi yang ternama, bonafit khususnya di Bali. Tidak semua orang bisa mempunyai kesempatan yang sama,” pungkasnya.

Direktur LPK Darma ini juga meenyebutkan bahwa pada 18 September 2019 tahun lalu, LPK Darma (Stikom Bali Group) telah menutup sesi pelatihan bahasa Jepang dan memberangkatkan 10 peserta magang ke Jepang yang disaksikan dan dilepas oleh Kadisnaker dan ESDM Provinsi Bali Ida Bagus Ngurah Arda di Aula ITB Stikom Bali, Renon, Denpasar.

Disampaikan juga pada saat itu bahwa sejak 31 Agustus 2019 jumlah anak muda Bali yang sudah menjadi peserta magang ke Jepang mencapai 1180 orang dan mereka semua tersebar disemua sektor usaha kecil dan menengah diseluruh wilayah Jepang.

Diketahui sebelumnya, polemik program magang ke Jepang dan kuliah sambil kerja di Taiwan menuai protes usai adanya laporan lima orang warga di Polresta Denpasar. Para pelapor yang terdiri dari Laurensius Diaz Riberu, Emanuel Teli Kedang, Hermanus Woka Hera, Servasius Yubelium Bilib dan Magdalena Junita Letor.

Kelima orang tersebut mengaku juga mengatasnamakan sembilan orang rekannya yang melaporkan adanya dugaan penggelapan dan penipuan yang dilakukan oleh LPK Darma dan RSN.

Semua tudingan itu kemudian dibantah oleh pihak LPK Darma dan RSN melalui kuasa hukum mereka Fredrik Billy, Kaspar Gambar, Derry Firmansyah, dan Lonny Rihi dari kantor Advokat Billy & Partners.

Disebutkan pengaduan berawal dari adanya Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding) antara Pemerintah Kabupaten Flores Timur dengan LPK Darma pada 5 April 2018. Kemduian dilanjutkan dengan Perjanjian Kerjasama No HK.8/KB-PENGKAB FLT/2018, No. 061/LPKD/IV/2018 tertanggal 23 April 2018 tentang Penyelenggaraan Program Magang ke Jepang bagi generasi muda Flores Timur.

Perjanjian juga dilakukan bersama beberapa pihak lainnya seperti, STMIK STIKOM Bali. BRI Cabang Larantuka terkait penyelenggaraan program magang dan kuliah sambil kerja di Taiwan.

Kendala yang dihadapi menurut kuasa hukum LPK Darma dan RSN adalah keluarnya pihak dari pihak otoritas negara terkait yang tidak bisa diintervensi oleh pihak LPK Darma dan Stikom Bali.

“Mereka sebenarnya sudah sangat paham dengan keberadaan dan kondisi mereka dibandingkan dengan yang sudah berangkat keluar negeri. Karena mereka sejak awal telah diberikan berbagai macam kursus dan pelatihan untuk program keluar negeri. Namun, untuk masuk ke universitas di Taiwan, pihak LPK Darma melalui kerjasama Itb Stikom Bali tidak dapat mengintervensi kampus yang ada disana,” ungkap pihak kuasa hukum LPK Darma. (Chan)

Berita Lainnya
.

Retakan Anak Krakatau Perlu Pengkajian
DPR Minta Kemlu Investigasi Dugaan Kerja Paksa Mahasiswa RI
Demokrat Tak Keberatan Jika Andi Arief Dilaporkan ke Polisi
Ade Jigo Sempat Tak Percaya Istri Meninggal Akibat Tsunami
Jadi Korban Tsunami, Anak Ade Jigo Trauma ke Laut