Peristiwa

Australia Dan China Bentrok Gara-Gara Medsos
And | Selasa,01 Des 2020 - 15:22:39 WIB | dibaca: 92 pembaca

PM Australia Scott Morrison/foto ist SSV youtube 9 News Australia

CityPost – Media sosial twitter tengah menjadi pemicu persiteruan antara Australia dan China. Sebuah cuitan terkait kejahatan perang viral hingga membuat Australia geram dan berkonflik dengan China.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison saat ini menuntut pemerintah China untuk menghapus cuitan mereka yang dinilainya sangat menjijikan terkait dugaan kejahatan perang di Afghanistan. Sebuah gambar yang dinilai hasil rekayasa menunjukkan ada seorang tentara Australia membunuh seorang anak. Gambar itu dipublish oleh Kementerian Luar Negeri China seiring adanya laporan pada minggu lalu yang menyatakan pasukan khusus Australia telah melakukan setidaknya 39 pembunuhan diluar hukum Afghanistan.

Atas cuitan dan publish gambar yang dinilainya rekayasa, Morrison menuntut pemerintah China untuk meminta maaf dan menghapus cuitan itu dari media sosial.

“Ini benar-benar memalukan dan tidak dapat dibenarkan atas dasar apapun. Pemerintah China seharusnya benar-benar malu dengan cuitan tersebut. Itu merendahkan mereka dimata dunia,” tegas Morrison.

Bahkan, Morrison juga telah meminta pihak twitter untuk menghapus cuitan dari juru bicara Kemenlu China Zhao Lijian tersebut yang dinilainya sangat menjijikan.

Diketahui, cuitan terkait seorang tentara Australia membunuh seorang anak dipublish oleh juru bicara Kemenlu China Zhao Lijian. Gambar hasil rekayasa itu menunjukkan seorang tentara Australia dengan pisau berlumuran darah disebelah seorang anak. Anak itu tampak memeluk seekor domba. Gambar diberikan teks yang berbunyi “Jangan takut, kami datang untuk memberi anda kedamaian!”

Pada cuitannya, Zhao juga menuliskan “Terkejut oleh berita pembunuhan warga sipil dan tahanan Afghanistan oleh tentara Australia. Kami sangat mengutuk tindakan seperti itu, dan menuntut pertanggungjawaban mereka,”

Disebutkan, Zhao kabarnya menuliskan semua cuitannya mengacu pada laporan sebelumnya pada bulan November tahun ini yang menemukan bukti bahwa pasukan elit Australia secara ilegal membunuh 39 tahanan, petani dan warga sipil Afghanistan selama berlangsungnya konflik di Afghanistan.

Bahkan juru bicara Kemenlu China yang lainnya, Hua Chunying juga menyerukan kepada Australia agar segera meminta maaf kepada rakyat Afghanistan.

“Apa yang harus dilakukan Australia adalah merenungkan secara mendalam, menyeret pelakunya kepengadilan, menyampaikan permintaan maaf secara resmi kepada rakyat Afghanistan dan dengan sungguh-sungguh berjanji kepada masyarakat internasional bahwa mereka tidak akan pernah melakukan kejahatan mengerikan seperti itu lagi,” tegas Hua.

Cuitan twitter itu juga saat ini sudah menjadi berita utama di media-media Australia, khususnya terkait rumor tentara Australia yang membunuh menggunakan pisau terhadap dua remaja Afghanistan namun tidak menemukan bukti yang mendukung atas rumor tersebut.

Namun disebutkan, ada penyelidikan yang menemukan bukti yang bisa dipercaya terkait pembunuhan diluar hukum oleh pasukan Australia di Afghanistan antara tahun 2005 sampai 2016 lalu.

Saat ini, semua gambar yang diposting dimedia sosial terkait pembunuhan di Afghanistan telah membuat PM Australia Scott Morrison marah dan mengecam pemerintah China.

“Pemerintah China seharusnya benar-benar malu atas cuitan ini. Ini menunjukkan rendahnya mereka dimata dunia. Australia menuntut permintaan maaf dari Kementerian Luar Negeri dari pemerintah China atas postingan yang keterlaluan ini. Kami juga sedang mengupayakan postingan ini dihapus segera telah menghubungi twitter agar segera menghapusnya. Itu adalah penggambaran palsu dan penghinaan yang mengerikan,” ucap Morrison.

Diketahui, Australia dan China sudah lama membekukan hubungan. Australia sebelumnya menuding China ikut campur dalam urusan dalam negeri Australia dan memata-matainya melalui dunia maya. Selain itu, Australia juga menuntut digelarnya penyelidikan global terkait asal-usul virus corona yang pertama kali mencuat dari China. Upaya Australia ini tengah membuat pemerintah China geram dan menilai Australia tidak adil mensasar China terkait virus corona.

Perselisihan antara Australia dan China akan terus berlanjut. Bahkan analis menilai, gambar-gambar kejahatan perang yang dipublish pihak China untuk menyudutkan Australia akan berdampak fatal dan bisa memicu konflik terbuka bagi kedua negara. (And/ist)

Berita Lainnya
.

Temui Ketua DPR, Bupati Nduga Papua Minta Aparat TNI Ditarik
Marak OTT Oleh KPK, Fadli Kritik Mekanisme Import
SDN 18 Lapai Padang Edukasi Murid Dengan Kurban Telur
Bamsoet Tak Akan Tanya Jatah Menteri Jika Jadi Ketum Golkar
KPK Selidiki Keterlibatan Menag Terkait Jual-Beli Jabatan