Tokoh

Inggris Serukan Kewaspadaan Atas China Namun Bukan Sinofobia
And | Kamis,14 Jan 2021 - 22:52:35 WIB | dibaca: 96 pembaca

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson/foto ist SSV youtube The Sun

CityPost – Hubungan pemerintah kerajaan Inggris dan pemerintahan China saat ini terus merenggang. Sejumlah kecurigaan dan kewaspadaan terus digelorakan Inggris terkait dengan eksistensi perusahaan-perusahaan dari Tiongkok termasuk aspek teknologi yang kini sedang digencarkan.

Menanggapi kewaspadaan itu, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menegaskan bahwa pihaknya memang harus menghindar dari China karena adanya pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang dilakukan mereka, termasuk menghindari akses pasar 5G di Inggris.

Kendati ketegangan dengan China terus menguat, namun Johnson juga menyerukan Inggris untuk tidak Sinofobia atau menjadi anti dengan China.

“Kita harus tetap waspada dengan infrastruktur nasional yang krusial termasuk perlindungan data dan dunia siber. Akan tetapi saya tidak ingin negara ini atau pemerintah Inggris terjebak dalam sinofobia yang tak terbayangkan,” tegas Johnson.

Diketahui, sejak 2020 lalu. Pemerintah Inggris sudah menjaga jarak dengan China. Hal itu diketahui dari adanya larangan terhadap perusahaan teknologi raksasa milik China, Huawei yang akan membangun jaringan ponsel generasi 5G mereka di Inggris dengan dalil keamanan dan adanya sejumlah sanksi dari pihak Amerika Serikat.

Bahkan selama ini Inggris terus melayangkan kritik terhadap China terkait pelanggaran Hak Asasi Manusia yang mereka lakukan. Kendati demikian, kata Johnson potensi akan terbukanya kembali hubungan yang produk antar kedua negara juga masih bisa dimungkinkan.

Diketahui, sebelumnya Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab mengumumkan pemberian sanksi kepada sejumlah perusahaan Inggris yang dituding masih belum terbebas dari pengaruh China, khususnya terkait pelanggaran kerja paksa yang menimpa etnis minoritas Uighur diwilayah Xinjiang.

Sinofobia itu sendiri adalah sebuah sikap dan rasa ketakutan terhadap Tiongkok sehingga memicu antipati untuk semua aspek yang berkaitan dengan negara itu. Baik budaya, bisnis, aktivitas dan semua yang berkaitan dengan China. (and/ist)

Berita Lainnya
.

Raja Salman Terpesona Kubah Masjid Istiqlal
Bawaslu Temukan Ketidak Pastian Hukum di Pilkada DKI
Calon Petahana Wajib Cuti di Kampanye Putaran Kedua
Investor Arab Saudi Ingin Kembangkan Pantai Mandeh
Rombongan Raja Salman Pesan 300 Kamar di Hilton Nusa Dua