Opini

KOLABORASI ANTAR ALUMNI ITB, CONNECTING THE DOTS
Penulis: Eko Indra Wahyudi (Pengamat) | Sabtu,17 Apr 2021 - 16:54:19 WIB | dibaca: 58 pembaca

Gembong Primajaya/foto Eko

Pemilihan Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Alumni ITB yang menggunakan sistem i-voting, voting berbasis internet, dilakukan Sabtu 17 April mulai pukul 06.00 dan akan berakhir pukul 16.00. Ada 8 kandidat yang bersaing untuk menjadi ketua umum periode 2021-2025 tersebut, masing-masing mempunyai program andalan.

Gembong Primajaya, kandidat yang alumnus Teknik Mesin ITB mantan petinggi BUMN energi yang saat ini menjadi entrepreneur di bidang energi dan bidang finansial, mempunyai program andalan "Connecting the dots" dan program "Alumni finance alumni".

Saat dihubungi, Gembong yang oleh para sahabatnya dikenal sebagai sosok yang sangat setia kawan, mengatakan telah melakukan banyak kegiatan dalam program-program tersebut. Melalui jejaringnya, banyak entrepreneur muda milenial alumnus ITB yang didanai alumnus yang lebih senior, dan semuanya menjadi lebih sukses.

Demikian juga beberapa rekam jejak kisah sukses saat melalukan connecting the dots, baik menghubungkan alumni muda dengan senior, menghubungkan lintas bidang, lintas sektor, lintas keahlian dan berbagai koneksi lain.

Gembong menceritakan, bahwa pada Maret 2019 lalu ada pekerjaan yang sangat sulit direalisasikan. Saat itu secara mendadak salah satu pembangkit listrik di Bali harus segera diservis, dan harus ada penambahan pembangkit lain untuk menggantikannya. Bila tidak berhasil, bulan Mei akan terjadi pemadaman lstrik di pulau yang menjadi andalan wisata Indonesia tersebut. Bisa dibayangkan kerugian ekonomi serta jatuhnya citra pariwisata nasional. Dengan cara biasa, diperkirakan terjadi pemadaman berkisar enam sampai delapan minggu.

Gembong menghubungi berbagai alumni ITB dari teknik sipil, elektro, mesin dan beberapa bidang lain, untuk lakukan kolaborasi. Hasilnya fantastis. Instalasi pembangkit listrik baru tenaga gas dapat cepat terpasang, dan tak perlu ada pemadaman listrik di Bali.

Puguh Iryantoro, alumnus teknik sipil ITB yang diajak Gembong untuk berkolaborasi, menceritakan tentang kerja istimewa Maret-April 2019 tersebut. Pada pertemuan pertama lintas keahlian, jadual pembuatan fondasi kompresor membutuhkan waktu 45 hari, dan itu berarti penyelesaian total akan terlambat 25-30 hari. Tim pemasangan pipa minta agar waktu pembuatan fondasi di area beresiko tinggi tersebut direduksi dari 45 hari menjadi 15 hari. Akhirnya pembangunan fondasi tersebut dilakukan dengan teknologi inovasi karya putra Indonesia yang telah memperoleh sertifikat paten, yaitu Konstruksi Jaring Rusuk Beton. Dengan kerja ekstra keras, walaupun tidak berhasil mereduksi waktu pembangunan dari 45 hari menjadi 15 hari, pekerjaan tersebut selesai 17 hari. Kolaborasi lintas keahlian yang dikoordinasikan Gembong sukses melakukan pekerjaan yang awalnya nampak mustahil.

Sukses connecting the dots yang lain adalah saat mengkolaborasikan teknologi dengan seni yang dilakukan di desa dampingan IA ITB Jawa Timur di Purwodadi. Para seniman alumnus seni rupa ITB, yaitu John Martono, Ari Gustian dan Titiasari, berhasil menyelaraskan program bersama dengan alumni ITB pendamping teknologi tepat guna yang ada di Pusat Inkubasi Inovasi Teknologi.

Saat menutup pembicaraan, Gembong Primajaya menyampaikan rencananya untuk memperbesar serta mereplikasi program-program yang telah terbukti bermanfaat tersebut.

Berita Lainnya
.

Trump Menuding FBI Dan Departemen Kehakiman Memihak Demokrat
Trump Berencana Pindahkan Pangkalan AS Di Jepang
Tak Mau Antar Surat, Petugas Pos Ditangkap Polisi
Ledakan Di Gaza Tewaskan Tujuh Warga Palestina
KPU Loloskan Verifikasi 15 Parpol Di Wilayah Tangerang