Peristiwa

Pejabat Iran Terus Mencari Cara Ringankan Sanksi Nuklir
Andre | Senin,06 Sept 2021 - 21:59:18 WIB | dibaca: 23 pembaca

Ilustrasi Gambar/foto ist ssv youtube bloomberg quick take

CityPost – Program nukli yang terus dikembangkan oleh Iran disebutkan sebagai prioritas keamanan nasional mereka. Namun, sejumlah negara Barat termasuk Amerika Serikat tidak serta-merta menerima alasan tersebut sehingga sanksi-sanksi masih terus diterapkan.

Seperti yang dilansir melalui Al Jazeera, disebutkan saat ini pihak Washington sedang menahan program nuklir Iran, sedangkan para petinggi Iran mengaku masih terus mencari cara keringanan sanksi.

Sejauh ini, kedua Negara dilaporkan masih memiliki kepentingan untuk kembali pada kesepakatan nuklir 2015 yang telah rusak diera Presiden Donald Trump yang menarik AS dari perjanjian itu dan kembali menerapkan sanksi bagi Iran.

Dalam misi mengembalikan kedua Negara pemilik nuklir itu dalam perjanjian 2015, bukanlah hal yang mudah. Selama enam putaran pertemuan di Wina pada awal tahun ini gagal mencapai kesepakatan untuk bisa memulihkan perjanjian nuklir multilateral tersebut.

Fase pemilihan presiden konservatif Ebrahim Raisi di Iran disebutkan menjadi salah satu yang memperumit situasi. Dimana saat ini, Iran sedang menghadapi pro kontra pemerintahan barunya. Satu sisi parlemen Iran setuju dengan kabinet Raisi namun para pihak hingga kini belum menetapkan rencana solid untuk melanjutkan negosiasi.

Banyak pihak yang pesimis dengan kemajuan perjanjian nuklir 2015 antara Amerika Serikat dan Iran. Salah satunya Negar Mortazavi, seorang analis Iran-Amerika Serikat dan juga merupakan seorang wartawan.

Negar pesimis dengan prospek pemulihan perjanjian nuklir 2015 yang secara resmi dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (JCPOA).

Menurut Negar, saat ini pemerintahan Raisi dijalankan oleh para ideology yang lebih dekat dan tertarik kepada China atau Rusia. Untuk itu, sepertinya Iran tidak akan segera bernegosiasi dengan AS. Dari sisi lain, pemerintahan AS dibawah kendali Joe Biden juga sepertinya tidak akan mau menghabiskan modal politiknya untuk misi pengembalian perjanjian tersebut. (And/ist)

Berita Lainnya
.

Imbas Letusan Merapi, Hutan Gunung Terbakar
Cak Imin Terus Bergerak Nyawapres Dengan Dukungan Ulama
Miras Oplosan Tewaskan Warga Bekasi Barat
Gedung Putih Berencana Pertemukan AS Dan Rusia
Suriah Tegaskan Iran Tidak Punya Pangkalan Militer Dinegaran