Peristiwa

Seruan Penyelidikan Atas Pembunuhan Jurnalis Shireen Meluas
Andre Heru | Kamis,12 Mei 2022 - 21:01:17 WIB | dibaca: 32 pembaca

Jurnalis Al Jazeera Shireen Abu Akleh/foto ist SSV Youtube Al Jazeera English

CityPost – Pembunuhan terhadap jurnalis Al Jazeera Shireen Abu Akleh yang sedang bertugas meliput aksi serangan tentara Israel di Tepi Barat telah memicu kecaman dan reaksi kemarahan masyarakat internasional. Insiden itu dianggap sebagai kekejian yang tidak bisa ditolerir.

Sebuah laporan kesaksian yang disampaikan Televisi yang berpusat di Qatar pada Rabu (11/5) lalu menyebutkan, Shireen (51) dibunuh dengan keji dan berdarah dingin oleh pasukan pendudukan Israel saat sedang meliput bersama jurnalis lainnya.

Bukan hanya Shireen, jurnalis dari Al Jazeera lainnya yang menjabat sebagai Produser, Ali al Samudi juga mengalami luka padahal, keduanya sudah jelas menggunakan helm dan rompi bertuliskan PRESS. Dia mengatakan tidak ada pejuang Palestina didekatnya dan ditekankan bahwa jika tidak mereka tidak akan pergi kewilayah itu.

Melansir laporan Al Jazeera disebutkan bahwa, ada seorang saksi mata bernama Majid Awais yang melaporkan kepada AFP bahwa Shireen Abu Akleh menjadi panik ketika dia melihat rekannya al Samudi tertembak dan dia sendiri terkena peluru fatal beberapa saat kemudian hingga akhirnya meninggal dunia.

Disebutkan, sejauh ini serangan Israel banyak mensasar jurnalis Palestina dan insiden penembakan serta kematian terhadap jurnalis hamper terjadi setiap tahunnya. Seperti hancurkan kantor berita Al Jazeera dan The Associated Press di Gaza.

Menanggapi tewasnya Shireen, Otoritas Palestina menganggap Israel bertanggungjawab atas pembunuhan Abu Akleh, seorang jurnalis keturunan Palestina-Amerika yang ditembak dikepalanya selama serangan Israel berlangsung di Kamp pengungsi Jenin.

Sementara, Gerakan Hamas yang menguasai jalur Gaza, mengutuk aksi pembunuhan terhadap Shireen. Mereka mengecam dengan istilah yang paling kejam dari pembunuhan.

Berita tewas dan dibunuhnya jurnalis Shireen juga sudah terdengar ditelinga Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres. Dia langsung menyerukan penyelidikan independent dan transparan atas penembakan tersebut dan memastikan pelakunya akan bertanggungjawab.

“Sekretaris Jenderal mengutuk semua serangan dan pembunuhan jurnalis dan menekankan bahwa jurnalis tidak boleh menjadi target kekerasan. Pekerja media harus bisa melakukan pekerjaannya dengan bebas dan tanpa pelecehan, intimidasi atau rasa takut menjadi sasaran,” tegas Guterres melalui pernyataan yang dikeluarkan pada Rabu (11/5) kemarin melalui juru bicaranya.

Selain Sekjen PBB, pihak Uni Eropa juga menyerukan adaya penyelidikan independent atas kematian Shireen. Kemudian, pihak yang juga menuntut digelar penyelidikan adalah Kepala Hak Asasi Manusia PBB Michelle Bachelet.

Mantan jurnalis Inggris Al Jazeera Ayman Mohideen yang juga pernah selama ini bekerja bersama Shireen Abu Akleh di Yerusalem dan Tepi Barat meminta pemerintah Amerika Serikat ikut mendorong penyelidikan independen karena Shireen merupakan warga negara AS.

“Yang paling penting adalah jika mereka (otoritas AS) ingin melihat penyelidikan, itu harus menyeluruh dan independent,” tegas Mohideen. (And)

Berita Lainnya
.

Indikasi Pelanggaran Ditemukan Dalam Kampanye Terbuka
Pertamina Siap Luncurkan Anjungan Lapangan YY
Menpar Siap Dukung Dan Fasilitasi Bandara Sabang
PLN Telah Pulihkan Pasokan Listrik Di Sentani
Pertamina Aktif Buka Akses Pasar UMKM Kain Nusantara