Jawa

Buntut Pengeroyokan Wartawan, FWJ Bakal Demo Summarecon
Chandra | Jumat,13 Mei 2022 - 15:05:48 WIB | dibaca: 30 pembaca

Massa aksi solidaritas FWJ memajang poster foto ADW korban pengeroyokan di Cluster Maxwell/foto dok FWJ

Jakarta, CityPost – Forum Wartawan Jakarta (FWJ) menyatakan bakal melakukan perlawanan hukum dan menuntut PT Summarecon Agung Tbk yang diduga menggunakan sejumlah preman untuk mengeroyok seorang wartawan dalam proses eksekusi rumah hingga tulang rusuknya patah dan kepalanya bocor.

Ketua Umum FWJ Mustofa Hadi Karya menegaskan Summarecon tidak seharusnya melakukan perbuatan yang melanggar hukum, khususnya terkait eksekusi rumah wartawan yang bernama Agus Dharma Jaya dan tinggal di Cluster Maxwell 28.

Menurut Mustofa, kasus sengketa tanah itu ada proses penyelesaianya dipengadilan dan perkara Agus Dharma saat ini masih dalam proses sidang perdata di Pengadilan Negeri Tangerang. Jadi masih dalam proses persidangan ada pihak yang langsung mengeksekusi apalagi melakukan penganiayaan itu adalah hal kegilaan dan sangat tidak berperikemanusiaan.

“Keputusan Pengadilan aja belum dan masih proses sidang Perdata di Pengadilan Negeri Tangerang, Kok bisa Summarecon melakukan eksekusi tanpa adanya surat keputusan PN,” tegas Mustofa melalui keterangan resminya pada Jumat (13/5) hari ini.

Mustofa mengancam jika Summarecon tidak meminta maaf dan tidak menanggung biaya perobatan ADW serta mengembalikan semua asset yang dieksekusi atau diambil, maka pihaknya akan menerjunkan massa aksi dari kalangan wartawan sebagai bentuk solidaritas profesi atas tindakan kesewenang-wenangan yang dilakukan pengusaha property hingga melukai wartawan dan tidak bisa menjalankan tugas jurnalistiknya sebagai pers.

“Aksi kami gelar di dua titik, yakni di Plaza Summarecon Kelapa Gading, Kecamatan Pulogadung Jakarta Timur dan Mabes Polri sebagai bentuk perlawanan dan solidaritas dari jurnalis atas tindakan Summarecon Gading Serpong dan terkait dibebaskannya pelaku pengeroyokan,” tegas Mustofa.

Pada kesempatan yang sama, Kuasa hukum ADW, Jalintar Simbolon mengatakan Tindakan Summarecon Gading Serpong telah melanggar aturan, arogansi yang dilakukan bentuk sikap tidak menghormati hukum.

“Itu asumsi kami, Summarecon perusahaan property terbesar di Indonesia yang layak ditutup karena arogansinya dan tidak menghormati hukum yang ada di Indonesia,” tegas Jalintar.

Jalintar juga mempertanyakan kepada Kepolisian Tangerang Selatan atas dibebaskannya para pelaku pengeroyokan yang telah dijerat Pasal 170 KUHP. Menurutnya tindakan itu sama saja dengan tidak adanya independensi penegakan hukum.

“Disinilah Kapolri diuji dan penegakan hukum menjadi pertaruhan. Sehingga public bisa menilai apakah Kapolri melalui Propam Mabes Polri dapat menindak tegas dengan mencopot Kapolres Tangsel berserta jajarannya (pulbaket),” tukasnya.

Diketahui sebelumnya, Mustofa menjelaskan bahwa pada proses eksekusi rumah ADW, kelompok eksekutor Summarecon tengah mempertontonkan perbuatan melawan hukum. Mereka menutup akses pintu masuk bagi kolega dan wartawan serta melakukan penyaderaan terhadap istri maupun anak-anak ADW yang dilakukan oleh sekelompok preman.

“Istri sama anak-anaknya disandera, bahkan barang-barang miliknya dikeluarkan dari rumah melalui pintu belakang kompleks. Itu maling alias perampokan karena sampai detik ini belum diketahui keberadaan barang-barang miliknya,” ungkap Mustofa.

Sementara itu, melansir keterangan Dr Tania yang menangani ADW dari RS Medika BSD Tangerang Selatan menyebutkan bahwa pihaknya telah menangani korban dengan baik dan membenarkan adanya keretakan pada tulang rusuk sebelah kanan, bocor pada bagian kepala, lengan kanan sobek dan tubuhnya mengalami luka lebam akibat benda tumpul.

“Kami sudah melakukan penanganan yang cukup kepada Agus Darma, hanya di RS ini masih kekurangan alat untuk bedah Torak (operasi tulang), sebaiknya dicari RS yang memadai fasilitas itu,” jelas Tania.

Secara terpisah, sebelumnya ADW menjelaskan bahwa pihaknya tidak terima dengan eksekusi sepihak yang dilakukan oleh Summarecon karena kasusnya masih dalam proses persidangan. Setelah itu dia mencoba melawan untuk mempertahankan haknya.

“Senin, 18 April 2022 kemarin juga ada agenda sidang di PN Tangerang kan udah tertera jadwalnya dengan nomor perkara 361/Pdt.G/2022/PN Tng, tapi mereka absen, malah ada ancaman mau langsung eksekusi rumah saya hari Rabunya,” ucap Darma.

Disebutkan, rumah Darma diseksekusi pihak Summarecon pada Rabu (20/4) lalu, ADW yang tidak terima coba mempertahankan dan melawan eksekutor yang berjumlah 30 orang hingga akhirnya dia dikeroyok dan mengalami keretakan tulang rusuk dan kepala yang bocor.

Hingga berita ini diturunkan, pihak redaksi masih mencoba mencari kontak untuk melakukan konfirmasi langsung kepada pihak Summarecon untuk bisa mendapatkan keterangan dan tanggapannya. (red)

Berita Lainnya
.

Polisi Berhasil Gagalkan Aksi Lonewolf Untuk Jokowi
Geram Dengan AS, Iran Pamerkan Bom Dahsyat Miliknya
Panggung Senggigi Sunset Jazz Dibuat Dari Bahan Daur Ulang
Trump Seriusi Perdamaian Israel dan Palestina
Pengusaha Tionghoa Sedunia Gelar Pertemuan Di Yangoon