Bali

Lindungi Mangrove Warga Adat Bali Tolak Pembangunan LNG
Chandra | Senin,20 Jun 2022 - 17:27:25 WIB | dibaca: 35 pembaca

Masyarakat dan Desa Adat Intaran, Denpasar Selatan melakukan unjuk rasa menolak pembangunan terminal LNG dikawasan mangrove/foto ist SSVT QaillaAsyiqah

Bali, CityPost – Masyarakat dan Desa Adat Intaran, Denpasar Selatan, Bali saat ini tengah melakukan aksi unjuk rasa menolak pembangunan terminal gas alam cair atau liquefied gas (LNG) yang akan dibangun dikawasan Mangrove Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai.

Aksi yang dilakukan masyarakat adat Intaran digelar mulai pukul 15.00 WITA di Jalan Tukad Bilok, Jalan Intaran, Jalan Danau buyan dan Jalan Danau Beratan.

Semua peserta aksi yang terdiri dari Sekaa teruna-teruni dan masyarakat berkumpul. Semua melakukan parade budaya, membawa ogoh-ogoh, baleganjur, pemasangan baliho dan orasi yang menyatakan penolakan mereka atas teminal LNG dikawasan mangrove oleh Bendesa Adat Intaran.

Dari informasi yang diperoleh redaksi, peserta aksi menolak adanya upaya perusakan lingkungan, laut yang dampaknya bisa memicu abrasi pantai dan juga berpotensi mengancam tempat suci di desa Intaran Sanur.

“Selamatkan mangrove untuk masa depan Bali,”, “terminal LNG dapat merusak pantai siapa yang bertanggungjawab jika pantai kami abrasi karena pembangunan LNG,”, “luasan mangrove kian berkurang kok malah mau ditebang untuk terminal LNG,”, dan “pembangunan terminal LNG berpotensi mengancam tempat suci di Desa Intaran Sanur,” tulis peserta aksi dalam spanduk-spanduk yang mereka bawa dan pasang dilokasi unjuk rasa.

Sementara itu, Bendesa Adat Intaran, I Gusti Agung Alit Kencana mengatakan bahwa rencana pembangunan terminal LNG dikawasan Mangrove melanggar dengan Peraturan Daerah (Perda) tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Nomor 16 Tahun 2009 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Bali Tahun 2009-2029.

Menurut Alit Kencana, dalam aturan tersebut, seharusnya terminal LNG dibangun dikawasan Benoa.

“Kita menolak karena Kawasan mangrove sesuai dengan rencana tata ruang Provinsi Bali pasal 42 ayat 1 lampiran nomor 9A 11B Peraturan Daerah Bali Nomor 3 tahun 2020 tentang Pemanfaatan Terminal LNG ada di Benoa, tidak berada dikawasan Mangrove Muntig Siokan. Kita jangan mau dibodohi, kita tahu adanya harus di Benoa,” tegas Alit saat berorasi pada Minggu (19/6/22).

Alit menyerukan kepada Krama Desa Adat Intaran untuk memahami pentingnya Kawasan Mangrove Muntig Siokan. Karena pembangunan terminal LNG akan merusak terumbu karang dan juga karena adanya rencana pengerukan pasir laut sebanyak 3,3 juta meter kubik agar kapal tanker bisa masuk kekawasan itu.

“Terumbu karang kita akan dibabat, akan dibor akan digergaji, akan dikeruk untuk memuluskan tanker masuk kewilayah Muntug Siokan. Berapa yang akan dikeruk? 3,3 juta kubik. Bisa dibayangkan sendiri. Mereka akan menghabisi terumbu karang kita padahal kita baru menanam kemarin, kita baru menanam waktu corona, kita baru menanam itu,” tukasnya.

Untuk menghalau rencana pembangunan LNG, Alit kemudian mengajak segenap masyarakat Desa Adat Intaran untuk sadar dan aksi yang dilakukan bukanlah melawan pemerintah tetapi melawan perusakan terhadap alam.

“Apapun program pemerintah kita harus dukung asalkan tidak merusak alam kita ini. Kita tidak hanya hidup sekarang. Anak-cucu kita. Kita harus hitung mereka, kita harus pertimbangkan mereka. Bagaimana mereka akan hidup nanti kalau semua alam rusak,” pungkas Alit. (Chand)

Berita Lainnya
.

Pembicaraan Nuklir Iran dan AS Kembali Dilanjutkan
Sikapi Ukraina, AS dan Rusia Bakal Gelar Pertemuan
Dua Sekutu Oposisi Navalny Ditahan Pihak Berwenang Rusia
Gadis 14 Tahun Tewas Tertembak Dipusat Pertokoan Los Angeles
Indonesia Bakal Cabut Larangan Terbang Boeing 737 MAX